Maaf, saya tidak mengenal Anda, Pak….

Singkat cerita, waktu itu gue ada keperluan ke Jakarta. Sebenernya gue juga lupa ngapain ke Jakarta saat itu. Yang jelas gue gak survei banjir.

Setelah urusan misterius gue itu selesai, gue disuruh sama atasan untuk ‘mampir’ ke kantor pusat yang di Kebon Nanas sana untuk mengambil suatu dokumen. Hmm, kenapa kesannya gue jadi kaya agen rahasia gini yak?

Sekitar pukul 9 pagi, gue sampai di Kebon Nanas . Yang bikin syok, ternyata dokumen yang mau gue ambil itu segedhe kayu pengganjal ban truk! Tahu gitu gue langsung balik aja ke Balikpapan, daripada bawa-bawa barang seberat ini!

Karena dokumen aslinya gak boleh dibawa, maka dokumen itu harus difotokopi dulu. Untuk fotokopi dokumen dengan kertas A3 dan setebal sepatu wedges itu gak mungkin dong dilakukan di kantor. So, salah satu kepala sub bagian di situ menyuruh stafnya untuk memfotokopi dokumen tersebut di luar.

“Kamu tahu fotokopi ‘Batavia’?” tanya Pak Kasubbag kepada stafnya, Budi.

Si Budi bengong, garuk-garuk kepala. “Di mana itu, Pak?”

“Itu di deket pom bensin, tapi kamu harus muter balik dulu. Jadi kalau dari sini itu, bla…bla…bla……”.

“……….” Budi masih terdiam membisu. Kepalanya penuh dengan tanda tanya kuadrat.

“Sini deh, Saya gambarin petanya,” kata Pak Kasubbag akhirnya sambil cari kertas dan bolpoin. Padahal waktu itu gue udah berinisiatif mau panggil Dora.

Berbekal peta buatan Bapak Kasubbag, Budi pun pergi menuju tempat fotokopian. Sepeninggal Budi yang berjuang mencari kitab suci, eh mencari tempat fotokopian, gue ngobrol sama temen gue, Mas Adi.

Gak terasa udah jam 12 lewat, Si Budi gak balik-balik juga. Gue curiga kalau Budi itu sebenernya nyasar, lalu nangis di pinggir jalan gak tahu jalan pulang.

Karena waktu itu udah masuk jam istirahat, Mas Adi ngajak gue makan siang di kantin.

Suasana di kantin seperti biasa, rame. Untung ada tempat yang kosong, meja yang bisa dipake 4 orang cuma dipake 2 orang aja. Gue sama Mas Adi duduk di tempat tersisa. Gak lama setelah gue duduk, 2 orang yang duduk semeja dengan gue pergi. Bukan, bukan karena gue bau. Enak aja! Alhasil di meja itu masih ada 2 kursi yang kosong. Gimana, matematikanya jalan kan?

Setelah makanan  pesenan gue dateng, tiba-tiba ada orang yang nyamperin gue.

“Mbak, di sini kosong?” kata bapak-bapak berpenampilan rapi sambil menunjuk ke arah kursi sebelah gue.

Karena gue baru aja menyaplok sesendok ketoprak, gue jadi gelagapan sambil berusaha menelan makanan itu secepat mungkin.

“Kosong, Pak. Silakan duduk saja,” sahut Mas Adi dengan sopan. Gue bersyukur Mas Adi bisa bantuin gue jawab sebelum gue keselek ketoprak. Gak lucu kan??

Bapak itu pun duduk di sebelah gue. Gak lama kemudian, ada seorang bapak-bapak juga yang nyamperin bapak yang pertama datang tadi.

“Mau pesan apa, Pak?” tanya Bapak Kedua kepada Bapak Pertama sambil duduk di sebelah Mas Adi.

“Saya pesen sendiri aja deh!” jawab Bapak Pertama, yang lalu pergi menuju ke penjual soto. Bapak Kedua juga pergi ke penjual makanan lainnya.

Tak lama kemudian, Bapak Pertama kembali duduk di sebelah gue.

“Dari mana, Mbak?”

Gue menelan ketoprak buru-buru. Bapak ini gangguin gue makan aja nih daritadi, pikir gue. “Dari Balikpapan, Pak.”

“Oh, PPE ya?”

“Iya, Pak,” jawab gue, sambil berusaha agar bumbu kacang ketopraknya gak muncrat ke mana-mana dari mulut gue.

“Udah lama Mbak, di sana?”

“Sudah 3 tahun lebih, Pak,” ujar gue sambil mengambil es teh, siap-siap mau gue minum.

“Oooh…enak di Balikpapan?” lagi-lagi Bapak Pertama itu tanya.

Kegiatan-mau-minum-es-teh gue gagal. “Lumayan, Pak. Gak macet kaya di Jakarta.”

Bapak itu manggut-manggut, dan gue bisa minum es teh yang sempat tertunda.

“Kalau Bapak dari mana?” Akhirnya gantian gue yang tanya, bosen juga daritadi dikepoin sama bapak-bapak ini.

Sebelum Bapak Pertama itu menjawab, Bapak Kedua datang disusul pelayan yang membawa baki berisi makanan. Pelayan itu menaruh makanan di atas meja kedua bapak-bapak tersebut, lalu pergi.

Sambil tersenyum, Bapak Pertama itu berkata, “Saya dari sini aja kok, Mbak.” Lalu sedetik kemudian dia nyusul pelayan yang tadi antar makanan. “Mbak, Mbak, pesenan Saya salah nih, kurang kuah sotonya!” ujar Bapak Pertama itu sambil setengah berlari.

Bapak Kedua juga pergi ke palayan yang tadi, mau ambil kerupuk katanya.

Sepeninggal kedua bapak-bapak itu, Mas Adi yang duduk di depan gue mesam-mesem. Dia gak keracunan makanan kan? Tanya gue dalam hati.

“Mbak,” kata Mas Adi tiba-tiba. “Itu Pak Sesmen kali, Mbak.”

“Hah? Yang mana?” Hati gue mencelos.

“Bapak-bapak yang duduk di sebelah Mbak Citra tadi, yang lagi ambil kuah soto,” kata Mas Adi kaleeeem banget.

Tangan gue dingin, sementara kaki gue pingin ngacir dari situ. “Yaach, gue pikir itu tadi tamu dari perusahaan mana gitu. Lagian, mana gue kepikiran kalau Pak Sesmen bakalan makan di kantin?”

Gue panik.

Gue ngerasa begooo banget.

Gue bener-bener gak tahu kalau itu Sesmen. Soalnya, gue juga gak pernah kerja sama ataupun ketemu sama beliau sebelum dilantik jadi Sesmen. Terus salah siapa coba?  Gak mungkin juga kalau Pak Sesmen disuruh bawa name tag ke mana-mana bertuliskan “SAYA ADALAH SESMEN KLH”.

“Santai aja, Mbak,” kata Mas Adi sambil menyeruput es teh manisnya.

Ya emang sih, kalau di KLH, hubungan antara atasan dan bawahan bisa dibilang baik. Mau ketemu Deputi, Sesmen, atau bahkan Menteri pun gak terlalu susah. Hubungan kekeluargaannya masih kuat.

Gak lama kemudian, Bapak Pertama alias Pak Sesmen datang sambil bawa kuah soto. Sementara gue sendiri pingin nyebur ke dalam panci kuah soto.

“Mari makan, Mbak” Pak Sesmen mulai menyendok nasi.

Gue hanya bisa diam sambil tersenyum kaku.

Bapak Kedua yang ternyata adalah stafnya Pak Sesmen, duduk di sebelah Mas Adi, lalu tersenyum sopan ke arah gue.

Lagi-lagi gue cuma tersenyum, memandang es teh gue yang udah hampir kosong.

~ by citrasmara on May 11, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: