(Ceritanya Mau) Membangun Karakter Diri

Dulu, waktu awal masuk kuliah dan masih berbau-bau aroma ospek, gue ikut yang namanya LDO atau Latihan Dasar Organisasi (eits, bukan LDR lho!) en beberapa waktu selanjutnya gue mengikuti LT atau Leader Trainingship (kalau ga salah :p). Dan kedua kegiatan itu gue ikuti karena emang wajib hukumnya. Jujur aja gue setengah hati ngelakuinnya, belum lagi harus nyelesein banyak tugas dan thethek bengek lainnya yang diminta oleh sang senior, bikin gue semakin gila!

Dalam kegiatan sebangsa dan setanah air dengan LDO atau LT, pasti diselipkan acara ESQ. Apa itu ESQ? ESQ itu singkatan dari Emotional Spiritual Quotien. Jadi, dalam diri manusia itu mempunyai 3 potensi yaitu kecerdasan intelektual, emotional, dan spiritual. Akan tetapi ketiganya tidak digunakan secara optimal. Nah, dalam acara ESQ ini, Sang Trainer berkoar-koar memberikan motivasi untuk membangun karakter manusia dengan menggabungkan ketiga potensi itu. Biasanya sih, nanti ada acara lampu dimatikan lalu terdengar lagu yang menyentuh diselingi oleh kata-kata dari trainer. Para peserta pelatihan pun banyak yang menangis, menyadari bahwa mereka hanya bagaikan butiran debu di hadapan Allah. Menangis terharu, bersyukur karena tanpa disadari mereka sudah diberikan banyak kenikmatan oleh-Nya. Ya, banyak yang menangis, bukan semuanya menangis. Mengapa? Karena gue-lah yang gak nangis. Kenapa? Apa gue gak punya kecerdasan intelektual, emotional, dan spiritual itu? Seburuk itukah gue??

Sepertinya enggak juga. Gue juga sering merasa terharu, merasa beruntung karena telah dianugerahi limpahan nikmat-Nya. Tapi gue merasa seperti itu bukan di saat acara LDO, LT, atau apapun itu yang ada training ESQ-nya. Melainkan di saat-saat tertentu yang kadang hanya berlangsung sekelebat mata.

Misalnya, di saat malam hari ketika gue baru keluar dari mall lalu melihat seorang bapak tua sedang berjualan balon, rasanya bikin gue terenyuh. Di saat gue sudah pulang dari bekerja, bapak itu masih berusaha untuk menjajakan jualannya, yang mungkin keuntungannya tidak seberapa. Di saat gue baru saja makan dan merasakan kenyang, gue jadi kepikiran apa bapak itu sudah makan? Lalu bagaimana dengan keluarganya? Beberapa pertanyaan ini berputar-putar di kepala gue. Di sisi lain, gue merasa sangat bersyukur atas apa yang gue miliki sekarang.

Lewat siaran di televisi, ternyata ada seorang nenek-nenek yang walaupun kondisi fisiknya sudah lemah, tetapi dia masih semangat bekerja di ladang demi kelangsungan hidupnya. Sementara gue yang masih muda belia seperti ini tak jarang malas masuk kantor, apalagi jika hari Senin. Gue kalah semangat dari nenek-nenek itu.

Lalu, dari buku yang ditulis oleh salah satu presenter televisi berinisial IH, gue sangat terharu oleh beberapa kisanya yang mengandung makna tersirat; kasih sayang orang tua terhadap anaknya. Tentu saja hal ini kadang juga luput dari perhatian gue. Ini juga membuat gue terharu, bersyukur mempunyai orang tua yang amat menyayangi gue (di balik kecerewetan mereka :p).

Begitulah….

Gue malah bisa terharu, atau bahkan bisa menangis melihat kejadian-kejadian (yang mungkin) sepele tersebut. Dengan kejadian itu gue bisa melihat apa kekurangan gue, apa kelebihan gue yang membuat gue lebih bersyukur kepada Sang Pencipta. Kenapa bisa demikian? Kenapa bisa training ESQ yang gue ikuti malah tidak berefek apapun bagi gue??

Jawabannya sederhana.

Menurut gue, untuk menjadi terharu atau menangis dalam hal untuk membangkitkan potensi intelektual, emotional, dan spiritual itu tidak bisa dilakukan karena paksaan.

Paksaan?? Maksud loo?? #plak

Maksudnya, coba deh kita investigasi saat LDO atau LT. Di saat itu gue dan juga peserta lain diminta untuk menundukkan diri sejenak lalu memejamkan mata. Bagi gue itu semacam ‘perintah’ yang harus dipatuhi, karena kalau gue gak nunduk, gue bakal dimarahi sama kakak pembimbing yang membuat nilai LDO atau LT gue jelek, atau bahkan bisa-bisa gue gak lulus pelatihan. Nah lo! Makanya, mau gak mau gue harus nurutin ‘perintah’ itu. Ditambah lagi gara-gara gue ikut LDO atau LT itu karena wajib dan takut dikenai sanksi jika gak ikut, jadi kesannya gue (lagi-lagi) ngikutin ‘perintah’, bukan atas keinginan gue sendiri. Jadi wajar dong kalau di saat merem, pikiran gue malah melayang ke mana-mana, yang gue pingin pulang ke rumah buat nyante-nyante, yang mikirin setumpuk pakaian kotor di kosan, atau jika meremnya terlalu lama, gue malah bisa ngantuk!

Bedakan dengan 3  peristiwa singkat tadi. Semuanya terjadi secara spontan, otak gue (yang pas-pasan) gak disuruh untuk memikirkan atau merenungkan apa yang terjadi di hadapan gue agar gue bisa memaknai peristiwa tersebut, tidak ada paksaan, tidak ada campur tangan dari pihak lain. Karena menurut gue, itu lebih karena naluri.

Coba bandingkan kalau tiba-tiba si penjual balon itu teriak-teriak ke gue minta balonnya segera dibeli en minta dikasihani, otomatis gue langsung kabur karena gue pikir itu orang gila yang jualan balon. Dan tentu saja gue gak bakalan terenyuh.

Jadi kesimpulannya, hmmm…..gue jadi bingung apa kesimpulannya. Ya intinya sebenernya kita bisa membangun karakter diri melalui diri kita sendiri. Nah, bingung kan?? Gue juga bingung.

NB:  jujur aja, ketika gue terenyuh atau terharu yang membuat gue merasa bersyukur itu, gue pasti langsung semangat, merasa positive thinking, merasa happy. Tapi, lama-kelamaan gue bakal lupa, gak jarang gue sering marah, ngambek, galau, pesimis. Hhhh…. Ya itulah gue, manusia yang penuh dengan kekurangan.

~ by citrasmara on November 5, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: