7 icons of PPE Kalimantan

Jangan dikira kalau group-group yang eksis akhir-akhiri ini hanyalah boy band atau girl band aja. Faktanya di Kalimantan ada group yang sangat eksis, gak kalah dari SM*SH. Seharusnya mereka juga masuk dalam kategori 7 orang tereksis di Kalimantan di acara On The Spot di Trans7. Dan gosip-gosipnya mereka masuk dalam calon-kandidat-new-seven-wonders. Lalu siapakan mereka??? Mereka adalah (jeng, jeng, jeng!) 7 icons of PPE Kalimantan *plokplokplok.

Perkenalkan (walaupun sebenernya pernah gue ungkit di postingan yang lalu-lalu), mereka adalah makhluk-makhluk yang terbilang paling baru sebagai penghuni di kantor Pusat Pengelolaan Ekoregion (PPE) Kalimantan yang semuanya berasal dari Pulau Jawa. PPE Kalimantan sendiri adalah perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup yang ada di Kalimantan. Di sini kalau gue jelasin ada berapa PPE di Indonesia beserta tugas dan fungsinya masing-masing, kayanya bakal terlalu panjaaaang (alesan aja karena sebenernya gue juga belum begitu paham).

Okelah, di sini gue akan menjelaskan mengenai manusia-manusia unik ini satu per satu. Akan gue pilah, akan gue investigasi menurut pandangan gue sendiri. Jika ada pertanyaan, silakan buka aja facebooknya yang gue link di setiap namanya. Tanpa bermaksud apa-apa, gue akan mulai dari yang tertua dahulu! :p

Mas Danang

Dialah leader (yang berarti paling tua :p) di antara member 7 icons of PPE Kalimantan. Nama lengkapnya adalah Danang Wahyu Wibowo atau disingkat DWW (yang mungkin ditulis sebagai inisial di barang-barang pribadinya). Sebenernya alasan utama mengapa dia jadi leader adalah karena sifatnya yang mampu jadi penengah di antara kita bertujuh. Kalau alasan paling utama ya itu, karena dialah yang paling tua, makanya gak heran kalau dia sering dipanggil ‘simbah’.

Mas Danang termasuk dalam 5 orang yang dateng ke Kalimantan kloter pertama. Waktu itu gue kira orangnya pendiem ‘n alim. Tapi ternyata perkiraan gue meleset jauh! Nyesel banget dulu gue mikir kaya gitu, karena ternyata orangnya cerewet abis, apalagi kalau ngomong selalu dengan logat Jawanya yang kental. Parahnya, sama orang non-Jawa pun dia tetep ngomong pake Bahasa Jawa. Gila gak tuh!

Selain budaya Jawanisasi-nya itu, gue juga berpendapat kalau Mas Danang ini gak alim-alim amat. Menurut penilaian gue, kalau penghargaan adipura itu ditujukan kepada seseorang, Mas Danang pasti gak bakalan bisa ngeraih penghargaan tersebut. Are you mudeng??

Mbak Luluk

Perlu dicatat, secara administratif, ada 2 cewek di dalam 7 icons of PPE Kalimantan. Tapi pada kenyataannya, semua dipukul rata, dianggep cowok semua! Hal inilah yang ngebuat gue dan Mbak Luluk yang bernama lengkap Luluk Nurul Jannah kadang ngerasa bagaikan makhluk hermaprodit.

Setelah ditinggal para cowok (beneran) di kosan lama lalu pindah ke kontrakan mereka yang jauh dari peradaban, gue dan Mbak Luluk juga ngontrak rumah yang entah kenapa selalu saja ada yang gak bener, mulai dari wastafel yang bocor sampe pintu rumah yang gak bisa dikunci!

Yang gue demen dari Mbak Luluk adalah dia pinter masak! Gue lebih sering jadi asistennya. Tapi pada suatu saat gue ditinggal Mbak Luluk ke luar kota lumayan lama, dan hikmahnya adalah gue bisa masak yang gak ngeracunin diri sendiri.

Mbak Luluk adalah orang pertama dari member 7 icons of PPE Kalimantan yang melepas masa lajangnya. Dia sangat berharap jika punya anak nanti, jangan sampe anaknya punya perilaku kaya 7 icons of PPE Kalimantan. Dan gue pun mengamini.

Mas Bili

Mas Bili atau bernama lengkap Alfanto Agribiliono ini dulunya pernah dipanggil ‘Mas Boy’ oleh yang lain (sambil bayangin kalau Aziz Gagap manggil ‘Mas Boy’ ke Andre Taulani). Tapi karena lama-lama bikin dia kesel, akhirnya nama itu perlahan-lahan memudar (dan gue sendiri pengen banget nama panggilan ‘Bakpao’ yang akhir-akhir ini ditujukan ke gue juga menghilang, lenyap ditelan bumi). Lalu kenapa namanya Agribiliono?? Gue juga gak tahu. Mungkin dia masih satu marga sama padi-padian.

Setelah gue dan 4 orang lainnya (Mas Danang, Mas Boris, Mas Aan, dan Mbak Luluk) dateng ke Balikpapan, Mas Bili baru nyusul beberapa hari kemudian. Yang paling gue inget saat jemput dia bareng-bareng sama yang lain adalah soto banjar. Why? Karena habis dari bandara, kami makan malam di warung soto banjar. Dan mengapa hal ini sangat membekas di hati gue?? Jawabannya sangatlah jelas: soto itu gratisan!

Rupanya Mas Bili ini punya bakat terpendam, yaitu masak. Seinget gue, dulu gue sama Mbak Luluk pernah ngambil lauk (yang agak gak jelas) buatan Mas Bili di kontrakan mereka. Dan sampe sekarang gue sama Mbak Luluk masih hidup ‘n still alive setelah makan masakan itu.

Selain itu, dia juga member 7 icons of PPE Kalimantan yang bisa nyetir. Ada satu syarat agar dia bisa menyetir dengan baik dan benar. Syaratnya adalah jangan menyuruh dia nyetir di saat dia kelaparan. Bisa gawat sodara-sodara!!

Mas Erwin

Setelah Mbak Luluk, Mas Erwin-lah yang akan melepas masa bujangnya. Mas erwin atau biasa dipanggil Momon sering banget pasang profile picture di facebook dengan bodinya yang masih ‘kering’. Jangan tertipu kawan, itu hanya kamuflase, karena sesungguhnya sekarang sudah sangat subur, siap dipanen.

Meski sering dipanggil Momon, nama asli-nya adalah Erwin Bahar. Jadi saran gue, jangan deh panggil Momon lagi, ntar dipatah-patahin sama Annisa Bahar baru tahu rasa!

Di kontrakan para cowok, Mas Erwin menjadi pengamat infotainment, selalu update tentang gosip-gosip artis terkini. Selain itu, di depan tv dia sering menjadi komentator, apa aja dikomentari (baca: diteriaki, dimarah-marahi, etc.), apalagi kalau tim favorit sepak bolanya main. Kasihan banget tuh tv-nya yang jadi korban. Gak heran kalau Mas Danang bilang kalau sebenernya tv-nya itu 27 inchi, tapi karena sering jadi korban semprotannya Mas Erwin, tv-nya menyusut jadi 21 inchi.

Mas Erwin adalah orang (ya, dia adalah orang) yang terakhir dateng ke PPE Kalimantan. Tapi jujur gue lupa kapan dia dateng. Mungkin karena waktu itu gue lagi dinas di Jakarta, jadi gue gak tahu gimana-gimanya dia pas nyampe Balikpapan. Pokoknya begitu gue pulang dari Jakarta, udah nongol aja tuh orang. Apa dia datengnya pas aku udah balik dari Jakarta ya?? Eh, gimana ya?? Gue lupaaa!!! #plak

Mas Boris

Gue sama Mas Boris alias Bobor bagaikan anjing dan kucing (tentunya bukan gue anjingnya). Entah kenapa gue sering ribut sama dia, gak di kantor, gak di kos, gak di tempat makan, gak di mobil…. Dia juga punya hobi yang sering bikin gue marah-marah: narikin kerudung. Pokoknya, kalau ada yang narikin kerudung, tersangka utamanya adalah Mas Boris, dan tersangka keduanya adalah Mas Danang. Meski begitu, gak jarang gue dan Mas Boris jadi temen duet saat karaokean. Anang sama Krisyahanti (Krisdayanti, Syahrini, Ashanti) mah lewat!

Mas Boris adalah satu-satunya member yang berasal dari Suku Sunda. Tapi karena member yang lain berasal dari Suku Jawa, mau gak mau dia harus paham Bahasa Jawa, secara kami selalu pake Jawa anywhere ‘n anytime, terlebih dengan adanya Mas Danang dengan program Jawanisasi-nya itu. Kadang dia juga maksain diri ngomong pake Bahasa Jawa yang hasilnya malah aneh.

Nama lengkap Mas Boris adalah M. Boris Tresnadi. Anehnya, pas ditanya oleh salah satu orang kantor apa kepanjangan dari ‘M’, jawabannya adalah ‘gak tahu’…. *krik krik krik*

Mas Aan

Jika semua member 7 icons of PPE Kalimantan berada di padang ilalang setinggi 170 cm, maka di situ yang bakal terlihat cuma Mas Aan seorang. Yang lainnya sukses ngumpet di balik ilalang. Terang aja soalnya Mas Aan punya tinggi badan antara 180-185 cm (gue gak tahu angka pastinya!).

Selain punya kelebihan tinggi badan yang bikin gue punya ide gila buat motong kakinya, Mas Aan juga bisa nyetir mobil, termasuk Mas Bili dan Mas Erwin. Jadi, kalau 7 icons of PPE Kalimantan melanglang buana, yang nyetir bisa gantian.

Orang tinggi ini bernama lengkap Permana Arief Mardika. Jadi dulu pada awalnya, gue manggilnya Mas Permana. Pas ada yang nyebut-nyebut nama Aan, terang aja gue bingung. Aan? Aan yang mana?? Sejak kapan ada seseorang bernama Aan yang ngikut ke Balikpapan?? Lagipula gak mungkin Aan yang ini kan??!

Citra a.k.a my self

Di dalam 7 icons of PPE Kalimantan, gue adalah maknae-nya alias yang termuda. Tapi bukannya disayang-sayang, gue malah sering dianiaya. Sampe ada peraturan dari Sang Leader kalau menganiaya gue itu adalah suatu kewajiban. Kenapa?? Kenapa harus gue?? Apa salah gue??? *acungin golok*

Walaupun gue lebih sering menerima penganiayaan mereka dengan pasrah, tapi gue juga pernah marah sama mereka. Ya, gue marah. Gue sampe melakukan aksi mogok ngomong sama mereka kecuali Mbak Luluk. Tapi waktu itu kebetulan gue gak di kantor karena ada kegiatan di luar, jadi gue gak dosa dong?!

Namun, di balik kethengilan-kethengilan mereka (cowok 7 icons of PPE Kalimantan), gue akui mereka baik. Masih inget gue tentang pengorbanan mereka bantuin gue dan Mbak Luluk pindahan kosan, padahal waktu itu siang hari dan pas bulan puasa! Sampe malem mereka bantuin dari mulai ngangkutin barang-barang, beli barang di beberapa toko, sampe ngebersihin kosan semacam nyapu, ngepel, ‘n nyikat kamar mandi plus kloset-nya!! Waktu itu gue bener-bener ngerasa mereka adalah pahlawan gue sama Mbak Luluk. Tentu saja waktu itu sponsor utamanya adalah mobil-kotak-antik-milik-bidang-2 yang merupakan mobil paling wagu di kantor. Konyolnya, saat itu klakson mobilnya gak nyala, jadilah kami sering teriak-teriak di jalan sebagai klakson manual.

Kekompakan 7 icons of PPE Kalimantan gak cuma dalam kasus di atas. Kami juga sering keluar bareng buat makan, jalan-jalan, belanja di mall, atau karaokean. Prinsip kami, kalau satu orang saja gak bisa ikut, mending cari hari lain. Secara kami bertujuh berada di bidang yang beda, jadi kepentingan dan urusannya pun berbeda. Paling banyak ada di bidang 2 (Bidang Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan SDA) ada Mas Danang, Mbak Luluk, dan Mas Bili. Di bidang 1 (Bidang Inventarisasi dan Pengembangan Sistem  Informasi LH) ada Mas Erwin dan Mas Aan. Gue ada di bidang 3 (Bidang Peningkatan Kapasitas). Sedangkan Mas Boris di Bagian Tata Usaha. Nah, lengkap kan? Bisa ngediriin satu kantor nih!

Menurut gue 7 icons of PPE Kalimantan bagaikan satu keluarga yang bisa saling mengerti kekurangan dan kelebihan masing-masing. Gue sadar, gak selamanya kami bisa bareng-bareng kaya gini terus. Pasti ada suatu waktu yang mengharuskan kami jalan ke arah yang berbeda, sendiri. Namun, apapun itu nanti, ingatlah bahwa kami pernah menghabiskan waktu bersama.

nampang dengan mobil antik

Beberapa postingan gue yang menceritakan sekelumit tentang member 7 icons of PPE Kalimantan:

  1. It’s not a dream, it’s real! Balikpapan, I’m here!!
  2. Tangan gue kagak nyampe!!
  3. Terasa asing di lidahku
  4. Beneran gak ada yang nemenin nih??
  5. Sebulan Ku di Sini~
  6. Dua Bulan Ku Di Sini
  7. 4 Bulan Ku di Sini

~ by citrasmara on January 3, 2012.

One Response to “7 icons of PPE Kalimantan”

  1. […] gue membutuhkan dia (suer, susah banget ngomong ini). Yang biasanya kaya kucing vs anjing (baca: 7 icons of PPE Kalimantan), sekarang kaya kucing vs macan, karena Si Bobor lebih ngerasa berkuasa gara-gara butuh apa-apa gue […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: