Baceman

Bagi orang awam, baceman merupakan salah satu macam makanan, bisa tahu bacem, tempe bacem, err…apa lagi ya? Yang jelas baceman adalah makanan.

Tapi, bagi anak-anak Tekim Undip (dan alumninya) kaya gue, baceman adalah sesuatu yang wajib dipunyai menjelang ujian. Bukan makanan. Wew, apakah itu?

Sebenarnya, menurut kamusnya anak Tekim, baceman adalah kumpulan soal-jawab dari tahun-tahun sebelumnya. Gue sendiri gak ngerti kapan istilah ini dikumandangkan. Baceman ini dijadiin acuan soal-soal yang akan diujikan dengan memperhatikan dosen pengampunya sama atau gak.

Jadi, biasanya, menjelang ujian, entah itu ujian tengah maupun akhir semester, gue dan temen-temen gue berbondong-bondong nyari baceman. Kadang saling tukar baceman antar teman. Trus kalau udah dapet baceman dari beberapa sumber, gue sortir deh. Dipilih yang tulisannya jelas, aktual, tajam, dan terpercaya. Harus diseleksi kali aja ada baceman yang sama. Nah, baru setelah itu difotokopi deh!

Ngomong-ngomong soal fotokopi, gue dan sebagian besar anak Tekim lainnya (gak tahu kalau sekarang) punya tempat fotokopian langganan, favorit lah! Namanya fotokopian “Agung” (iklan). Kalau mau fotokopi baceman, diktat, print-print-an slide, bahkan contekan bisa dilguekan di sini. Ini adalah tempat tongkrongan anak Tekim menjelang dan hari-hari saat ujian.

Sering pas habis ujian, kalau lewat fotokopian “Agung” keadaannya rame banget! Sampe-sampe banyak motor parkir yang bikin jalanan jadi sempit. Emang mereka pada ngapain? Tentu saja ngopi baceman yang dijadiin bahan belajar ujian keesokan harinya. Kalau keadaannya kaya gitu, gak jarang juga gue sering nimbrung di situ, siapa tahu ada beceman yang belum gue punya. Kadang waktu gue lebih banyak dihabiskan di fotokopian dan bukannya belajar di kosan (ckckckck).

Baceman itu sendiri gue gunakan sebagai bahan yang wajib dipelajari menjelang ujian. Kalau gak ada baceman, gue serasa meraba-raba di dalam kegelapan (halah!). Gue punya perlakuan khusus terhadap baceman kalau ujian yang akan dihadapi adalah open all, terserah mau buka buku atau apa aja asal gak buka celana. Kalau ujian dengan status open all, gue kumpulin baceman sebanyak-banyaknya. Lalu gue bikin indeksnya (hah?). Begini caranya sodara-sodara: di halaman paling depan tiap bendel baceman, ditulis huruf urut abjad. Trus, dalam satu bendel juga ditulis nomor halamannya di tiap-tiap lembar. Setelah selesai menomori, sekarang saatnya menulis indeksnya. Di kertas terpisah, gue biasa menulis indeksnya, tinggal ditulis apa inti dari tiap halaman itu, mulai dari bendel A halaman 1 (A1), bendel A halaman 2 (A2) dan seterusnya sampe selesai. Paham gak? Kalau gak paham silakan hubungi gue! Tips yang sangat menarik bukan??

So, kalau pas ujian, tinggal baca soalnya trus baca indeks yang udah dibuat sebelumnya. Dicocokin, kira-kira di halaman mana soal di baceman yang mirip dengan soal ujian. Jadi gak perlu ribet buka bacemannya satu per satu. Kreatif bukan??

Pernah juga gue akan menjalani ujian open all yang gue gak begitu paham materinya. Malem sebelum ujian, salah satu temenku sms: “Cit, kamu belajar yang mana aja?”

Langsung gue bales: “Gue gak belajar, cuma bikin indeks, hehe….”

Oleh sebab itu, gue gak heran kalau gue lulus dengan IPK yang gak cumlaude.

~ by citrasmara on November 8, 2011.

One Response to “Baceman”

  1. […] manis. Tentu saja saat itu gue juga menyerbu tempat fotokopi buat ngopi (bahasa gaulnya fotokopi) baceman. Tapi lebih gila lagi kalau awal semester. Kegiatan kopi-mengkopi bener-bener menguras kantong! […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: