Aku, orang yang pendiam (?)

Udah sebulan lebih ini tiap pagi aku dan ayahku jalan pagi diselingi lari-lari kecil keliling desa (ga keliling sih, mungkin cuma setengahnya aja, hehe). Hal ini dimaksudkan biar aku ga mendekam en berdiam diri terus di dalam rumah. Masa’ kerjaannya cuma maenan laptop, nonton tv, atau baca novel sambil merenungi kapan ya SK-nya keluar? Kali-kali gerakin badanlah biar sehat, syukur-syukur kalau bisa nurunin berat badan (hihihi). Akhir-akhir ini dalam hatiku selalu berteriak-teriak miris, “Kapan ya aku bisa punya bentuk tubuh kaya personelnya SNSD??” (hhhh…*menghela nafas).

Gara-gara kegiatan pagiku itu, aku sampai hafal tempat tongkrongan beberapa ekor kucing, dari kucing dengan muka bego sampai kucing berbulu putih yang lucu. Biasanya selama berkeliling desa itu, kami bertemu dengan beberapa orang yang udah berkeliaran di luar rumah, dan terjadilah adegan saling sapa. Sayangnya aku ga kenal mereka walaupun mereka mengenalku. Jeng…jeng…jeng…this is my problem!!

Bisa dibilang aku ini anak kurang gaul kalau di lingkungan sekitar rumah. Mengapa? Jawabannya adalah karena aku ga pernah tuh yang namanya maen bareng sama orang-orang sekitar sini. Istilah kerennya ga pernah hang-out bareng mereka. Pas aku masih kecil sih emang sering maen bareng tetangga kanan-kiri. Tapi seiring berjalannya waktu, aku berubah menjadi gadis pendiam en kalem yang hanya bertapa di dalam rumah (haha, mereka ga tahu gimana perilakuku saat di tempat laen^^).

Setelah kuselidiki (tanpa bantuan Detektif Conan), selain faktor internal dari dalam diriku ini, aku juga tahu faktor eksternal penyebab kekurang-gaulanku ini. Dan itu adalah karena aku ga sekolah di lingkungan desaku. Di desaku sendiri ada SD en SMP yang (bisa dibilang) bagus (aku bilang SMPnya bagus karena salah satu alumninya jadi temen sekelasku pas kuliah, hihihi). Aku sendiri malah bersekolah di tempat lain yang lebih jauh. Jadi aku lebih sering maen bareng temen-temenku yang berasal dari daerah lain.

Sekolah dasarku adalah SD Negeri 1 Subah. Dulu terkenal banget dengan SD yang ketat peraturannya, termasuk SD unggulan juga (suit, suit!). Kalau dari rumahku, untuk mencapai SDku harus menempuh jarak sekitar 3 km dan harus melewati jalur pantura yang terkenal liar (bahkan sampe sekarang aku ga dibolehin mengendarai motor di jalan ini, hiks!). Tapi saat itu karena emang masih kecil, aku masih lumayan sering juga maen bareng temen-temen sekitar rumah.

Sedangkan sekolah menengah pertamaku di SMP Negeri 1 Subah, bukan SMP Negeri 2 Subah (dulu SMP Negeri 3 Subah) yang jaraknya hanya 300 meter dari rumah. Ada hal yang aku sebelin ketika aku berangkat dan pulang sekolah saat itu. Pertama, ketika aku berangkat sekolah mau ga mau aku harus berpapasan dengan para siswa SMP 2. Aku (sendirian) berjalan ke arah selatan menuju jalan raya (trus nyetop bis) sementara mereka (rame-rame) dengan seragam yang sama denganku berjalan ke arah utara, ke arah sekolahnya. Bertolak belakang kan? Aku ga suka karena aku merasa kaya orang hilang, makanya aku selalu berjalan menunduk. Lalu pas pulang sekolah juga harus seperti itu, bahkan lebih gawat karena gerombolan mereka lebih banyak, mereka kan serempak keluar sekolahnya kalau pas pulang. Gerombolan-gerombolan itu seakan mau menerkam aku yang jalan sendirian. Yang bikin aku lebih sebel, mereka sering banget nutupin jalan. Dikira jalan simbahmu apa? So, ga jarang aku nglirik sinis ke arah mereka (terutama yang cowok) biar mereka ngasih jalan buat aku. Hhhh, terlalu!

Tapi ada juga kejadian yang lucu. Saat itu jamnya pulang sekolah. Habis turun dari bis, aku langsung jalan cepet-cepet ke rumah biar bisa nonton “Amigos” (ketahuan jadulnya deh!). Tiba-tiba seorang pria, guru, nanya ke aku, “Ada yang ketinggalan, Mbak? Kok balik lagi?”

Emang dasar pikiranku lagi tertuju ke Amigos, aku agak bingung ditanyain kaya gitu. Ketinggalan? Maksudnya? Tapi sedetik kemudian aku langsung sadar. Ini pasti aku dikira siswi SMP 2!

“Oh enggak Pak, saya dari SMP 1,” jawabku sambil tersenyum en langsung ngacir.

Dalam hati aku ketawa guling-guling.

Hmm, balik lagi ke soal kekurang-gaulanku. Masalah ini semakin tertanam sejak SMP. Temen-temenku ya temen sekolahku, anak desa lain. Kalau mau maen, aku pergi ke Subah, ke rumah temenku. Kebiasaan ini berlanjut dan sampe mendarah daging pada diriku ini sampe SMA dan sampe sekarang! Jadilah aku sebagai anak yang kurang gaul di desanya sendiri.

Walaupun cuma segelintir orang yang kukenal di desaku, tapi banyak sekali orang yang mengenalku (mungkin gara-gara keeksisan orang tuaku, xixixi). Jadi ga jarang ketika aku disapa orang, aku ga ngerti siapa tu orang. Memalukan ya?

Pernah juga pas aku jalan pulang sekolah (lupa, saat itu SMP atau SMA ya?) lalu ada orang yang berbaik hati mempersilakan aku untuk menebeng ria dan ku sambut dengan hati bersorak-sorai. Nyampe depan rumah aku turun dari motor en ngucapin terima kasih ke orang itu. Pas masuk ke dalam rumah, aku ditanyain sama ibuku yang udah pulang duluan, “Dianterin siapa, Dek?”

“He, ga tau…,” aku cuma nyengir aja.

Mungkin kalau dikomikin semacam Sinchan, di kepala ibuku sekarang udah muncul gambar keringat gede yang netes. Dan kejadian kaya gitu ga cuma terjadi sekali (cape deh!).

Nah, sampe detik ini, begitulah aku, disangka aku adalah orang yang pendiam. Padahal sebenarnya ga juga (kalau pemalu sih iya). Di dalam rumahku sendiri aku sering bikin keributan. Kalau bareng temen-temenku, aku juga bisa ngobrol sampe mulutku berbusa.

Lalu, tentang aku, bagaimana menurut Anda?? *sambil ngacung-ngacungin golok

~ by citrasmara on March 3, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: